Awalnya, Tempat Fitnes di Ruang Dasar Apartemen

Tak mudah bisa membangun masjid di Austria. Selain proses perizinan memakan waktu, biaya mendirikan tempat ibadah pun tergolong besar. Namun, kendala tersebut bisa dilewati Warga Pengajian Wina (Wapena) untuk bisa memiliki masjid di ibu kota Austria. A. REZA KHOMAINI, Wina

BENTUK bangunan masjid As-Salam Wapena tak seperti masjid-masjid di Indonesia, atap berkubah dan ada menara. Masjid Indonesia pertama di Austria ini hanya sebuah ruangan dengan luas total 106 meter persegi di lantai dasar apartemen Malfattigasse 18 A-1120 Wien. Di Wina, dari sekitar 40 masjid yang berdiri di negara berpenduduk 8,4 juta jiwa itu, hanya satu yang bangunannya memiliki menara dan atapnya berkubah.

Selebihnya dalam bentuk apartemen. Ada yang menyewa, ada juga yang membeli apartemen tersebut secara permanen untuk dijadikan masjid. ’’’Tak mudah untuk mendirikan masjid seperti di Indonesia. Di Austria hanya masjid Vienna Islamic Center yang seperti itu (ada menara dan atap berkubah). Sebab izinnya cukup sulit, dan tentu biayanya tidak sedikit,’’ terang Andi Ahmad Junirsah, ketua Wapena kepada INDOPOS memulai cerita berdirinya Masjid As-Salam di Wina. ’’Karena itu, saat mematangkan rencana pendirian masjid, kami mencoba realistis. Jangan sulit-sulit, dan biaya yang diperlukan bisa dijangkau,’’ sambung pria yang akrab disapa Acha ini.

Mengenai masjid As-Salam sendiri, Acha menjelaskan bahwa masjid yang diresmikan pada 21 Januari lalu itu baru tiga tahun terakhir digunakan sebagai sarana ibadah kaum muslim. Awalnya, ruangan dasar di apartemen berlantai lima ini merupakan tempat sarana olahraga. ’’Yang saya tahu, tempat ini dijadikan sarana olahraga atau semacam fitness,’’ ungkap pria kelahiran 7 Juni 1974 ini. Ruangan yang menjadi cikal bakal masjid As-Salam ini baru berubah fungsi menjadi masjid disewa oleh warga muslim asal Eropa Timur.

’’Warga muslim Bosnia dan Makedonia yang pertama menjadikannya sebagai masjid,’’ urai Acha. Namun keberadaan masjid yang dikelola warga Eropa Timur itu tak berlangsung lama. Pada 2011 awal, warga muslim Pakistan yang diketuai Dr. Rafi melanjut estafet pengelolaan masjid. ’’Sebagai pengelolanya, warga Pakistan menamakan masjid ini Makki, sebutan lain untuk kota suci Makkah,’’ jelas Acha. Belum satu tahun mengelola, kegiatan peribadahan di masjid Makki terancam dihentikan.

Itu menyusul rencana kepulangan Dr. Rafi selaku ketua pengelola masjid ke negara asalnya. Mengetahui akan adanya kabar tersebut, Acha langsung berkoordinasi dengan pengurus Wapena lainnya. ’’Kami langsung cek ke lokasi, dan setelah berbicara dengan pengelola masjid, dalam hitungan hari kami langsung memutuskan untuk melanjutkan pengelolaan masjid,’’ terangnya. Kondisi ini diakui Acha sangat menguntungkan.

Setidaknya untuk urusan perizinan tidak akan menyulitkan. Pasalnya, selain fungsi bangunan yang sudah terdaftar sebagai tempat ibadah, pihak Wapena sebagai calon pengelola juga merupakan perkumpulan yang telah resmi terdaftar di kepolisian dan pemerintah kota Wina. ’’Kami hanya take over pengelolaan, sementara fungsi dan tujuan tempat ibadahnya tetap sama. Dan pada akhirnya, kami memiliki masjid sendiri dengan nama sendiri,’’ urai pria yang sejak 1991 ini berdomisili di Wina.

Saat ditanya penentuan nama As-Salam, Acha menerangkan bahwa kata Salam digunakan sebagai keselamatan atau kedamaian. Dengan nama tersebut, diharapkan jamaah yang menjalani ibadah di masjid ini akan menemukan suasana hati penuh kedamaian dan ketentraman. ’’Selain itu juga, Salam juga bisa diartikan menyapa. Dan kami ingin menyapa kepada semua umat muslim di sini untuk beribadah di masjid As-Salam,’’ katanya. Untuk mengambil alih pengelolaan masjid, pihak Wapena harus menyiapkan dana sedikitnya Euro 5.000 atau sekitar Rp 60 juta (Euro 1=Rp 12 ribu).

Dana tersebut diperlukan untuk uang jaminan sebesar 2 bulan sewa kepada pemilik apartemen, sewa satu bulan pertama sebesar Euro 750, biaya administrasi sebesar satu bulan sewa, dan renovasi ruang. Menurut Penasihat Wapena Dewanto Saptoadi, untuk operasional masjid selama satu bulan diperkirakan memakan dana sekitar Euro 1.000. ’’Itu untuk biaya sewa tempat, serta biaya gas, listrik, dan perawatan,’’ terang Dewanto kepada INDOPOS.

Dukungan warga baik moral dan material, diakui Dewanto sangat luar biasa terhadap masjid As-Salam. Bahkan, dukungan tersebut tidak hanya datang dari warga muslim Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga mendukung berdirinya masjid As-Salam. ’’Alhamdulillah. Respons yang kami terima dari warga sangat bagus sekali. Bahkan saat bersih-bersih tempat, banyak warga sukarela menyumbangkan tenaganya,’’ ujar pria yang bekerja sebagai staf profesional 3 safeguard di Departemen Nuklir IAEA ini.

Lebih lanjut Dewanto berharap, keberadaan masjid As-Salam tidak hanya digunakan untuk menjalani ibadah salat lima waktu. Namun juga kegiatan-kegiatan Islami lainnya, baik itu dari warga muslim Indonesia maupun warga Malaysia dan Singapura, bisa berjalan. ’’Kami mempersilakan kepada sahabat-sahabat dari Malaysia dan juga Singapura untuk menggunakan masjid ini sebagai rumah ibadah bersama,’’ kata Dewanto.

Dukungan dari rekan-rekan asal Negeri Jiran ini memang mendapat apresiasi dari KBRI/PTRI Wina. Sosok Datuk Mohammad Daud yang acap kali mengikuti acara pengajian di kantor perwakilan RI di Austria itu menjadi penggerak warga muslim Malaysia. Saat acara peresmian masjid As-Salam, 21 Januari lalu, Dubes RI untuk Austria dan Slovenia, I Gusti Agung Wesaka Puja secara simbolis menyerahkan potongan nasi tumpeng pertama kepada pria yang menjabat sebagai Deputi Direktur Jendral di Departemen Nuklir IAEA. ’’Saya mau ucapkan selamat dan terima kasih atas dukungan beliau,’’ ucap Wesaka Puja saat menyerahkan nasi tumpeng tersebut kepada Datuk M. Daud di masjid As-Salam Wapena. (bersambung)

Oleh: Reza Khomaini
Sumber: Indopos

One Comment

    Wan

    ,sekarang udah ga di pakai lg yah.
    Jumat 19 mei 2017 saya ke sana, sekitar pukul 12.00 sampai jam 13.00 tak ada aktifitas jumaatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.