Bijak Menyikapi Ketakutan yang Tidak Berdasar terhadap Muslim

Perilaku ketakutan atau bahkan kebencian terhadap Islam dan Muslim sedang marak di Eropa saat ini. Ini kemungkinan dipicu oleh beberapa peristiwa teror orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang menjalankan aksi mereka terakhir di Paris dan Brussel. Di saat kita mengutuk peristiwa-peristiwa teror yang terjadi di Lahore, Ankara, Paris, Brussel dan di tempat-tempat lain, mereka yang memang sedari dulu sudah memendam rasa ketidaksukaan pada Islam, semakin mempertegas aksi-aksinya secara demonstratif bahkan terhadap orang Muslim yang sama sekali tidak bersalah dan tidak tahu-menahu persoalan.

Perilaku yang sering disebut Islamofobia ini dapat didefinisikan sebagai „perasaan ketakutan atau kebencian terhadap Islam, orang-orang Islam (Muslim) maupun budaya Islam“ (M. Arif, 2014). Atau ini bisa juga diartikan sebagai „permusuhan yang tidak berdasar terhadap Muslim, dan karena itu ketakutan atau perasaan tidak suka terhadap semua atau sebagian besar Muslim“ (http://crg.berkeley.edu/content/islamophobia/defining-islamophobia). Biasanya ini juga berhubungan dengan „Xenophobia“ yang artinya kurang lebih adalah rasa tidak suka kepada orang asing. Inti sebenarnya adalah irrational fear (ketakutan yang tidak rasional), kebencian, permusuhan dan diskriminasi terhadap semua yang berhubungan dengan Islam. Pemicunya bisa saja beragam. Mungkin saja ini dari aspek historis terkait Perang Salib. Atau bisa juga ini berhubungan dengan peristiwa kontemporer seperti September 11, 2001 (dimana korban tewas hampir 3000 orang), peristiwa Bom Madrid tahun 2004 (korban tewas 191 orang) dan Bom London tahun 2005 (korban tewas 56 orang).

Padahal, jika kita lebih jeli dan adil dalam melihat permasalahan global dewasa ini maka ternyata umat Islam bahkan lebih banyak menjadi korban. Dan tentunya bisa dipastikan bahwa para pelaku tersebut adalah bukan seorang Muslim! Kita sebut saja peristiwa Genosida di Bosnia antara tahun 1992-1995 yang memakan korban tewas Muslim Bosnia sebanyak 8000 orang. Bahkan, konon total sekitar 200 ribu orang terbunuh, terluka dan hilang pada masa itu. Sang pelaku, Radovan Karadzic baru saja dijatuhi hukuman pidana 40 tahun penjara oleh Mahkamah Pidana Internasional di Belanda. Ada lagi persoalan Muslim China Uyghurs yang banyak merasakan diskriminasi dari pemerintahnya. Juga, yang tidak banyak muncul di surat kabar Jerman adalah peristiwa pembunuhan ibu hamil, Marwa El-Sherbini di pengadilan Dresden oleh Alex Wiens pada tahun 2009. Belum hilang dari ingatan kita juga adalah penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar yang dibantai oleh para pendeta Buddha ekstrimis. Lalu, peristiwa pembunuhan massal oleh ekstrimis sayap kanan, Anders Breivik di Norwegia yang meskipun korbannya sebanyak 77 orang bukan Muslim, namun peristiwa ini sangat bermotif kebencian terhadap orang asing.

Sedangkan untuk Austria sendiri, secara umum kondisi masyarakat Muslim di Austria cukup baik karena adanya Undang-Undang mengenai Islam sejak tahun 1912. Meskipun demikian, keadaan agak rawan biasanya dipicu oleh sentimen politik dari partai, gerakan atau politik sayap kanan (mengikuti gerakan radikal sayap kanan PEGIDA di Jerman). Akhir-akhir ini juga, para politisi garis keras biasanya bersuara kritis terhadap masalah refugee crisis. Ditambah lagi, misalnya beberapa kejadian sporadik tidak simpatik seperti di depan masjid Floridsdorf, di lahan tempat pembangunan Sekolah Imam di Simmering dan Islamic Centre di Graz dimana diletakkan kepala babi.

Meskipun keadaan warga Muslim di Austria relatif lebih aman daripada di negara-negara Eropa yang lainnya, pada beberapa waktu terakhir, terdapat juga serangan verbal terhadap beberapa wanita Muslimah yang berhijab. Serangan fisik dialami oleh seorang wanita berusia 60 tahun ketika ia didorong dan dibanting oleh seorang lelaki di depan bank counter. Sang ibu dilarikan ke rumah sakit karena mengalami beberapa cedera. Bahkan, hingga akhir tahun 2014, terdapat sekitar 50 laporan ke Hotline yang menangani Islamofobia (die Presse, 29 Desember 2014).

Lantas, bagaimana kita sebagai seorang Muslim menyikapi perasaan kebencian, ketakutan dan permusuhan sebagian orang Eropa terhadap Islam tersebut? Menurut penulis, ada beberapa cara kita menghadapinya: (1) Setiap kita diharapkan dapat menguasai bahasa setempat dengan baik. Ini tentunya akan membuat kita akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan warga setempat; (2) Kita diharapkan untuk selalu tenang dan tidak melibatkan emosi yang berlebihan dalam interaksi kita; (3) Selalu bersikap waspada dan hati-hati di setiap situasi dan kondisi; (4) Ketika ada yang menyerang kita secara verbal maka cukup dijawab, „Hal (peristiwa) tersebut tidak ada hubungannya dengan saya“; (5) Sedapat mungkin untuk selalu berperilaku baik; (6) Jika mereka terlihat agresif, berusahalah menghindar dengan cara yang baik; (7) Jika kita bersalah, berusahalah cepat untuk minta maaf dan selalu siap untuk memaafkan. Al Qur’an telah mengingatkan kita, „… Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik…“ (Fushshilat 41:34); (8) Usahakan untuk bergaul dengan para tetangga dan kenalan dengan baik, misal berilah hadiah, makanan dan tanyakan kabar, dll; (9) Senantiasa menjalin ukhuwah dan mempelajari agama ini dengan baik di dalam keluarga dan lingkungan pergaulan; (10) Mempromosikan nilai dasar Islam tentang toleransi, perdamaian dan respek terhadap sesama; (11) Mengedepankan dialog dan pendekatan budaya.

Intinya adalah bahwa warga Muslim di Eropa diharapkan berperan proaktif di lingkungan tempat tinggal mereka untuk memberikan contoh terbaik bagaimanakah selayaknya seorang Muslim berinteraksi dan berperilaku secara sosial. Agama kita telah mengajarkan kita, „Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia“ (Fushshilat 41:34). „Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang jahil“ (Al A‘raf 7:199).

 

Wina, 18 April 2016

Oleh : Andi Ahmad Junirsah

(Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dari penulis dan bukan merupakan pandangan resmi yang mewakili Wapena sebagai sebuah organisasi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.