Muslim Eropa membutuhkan figur dakwah

Muslim Eropa, termasuk muslim Austria, belakangan ini tengah mengalami ujian berat. Riak-riak hubungan muslim yang mayoritas imigran dari pebagai macam latar belakang bangsa dengan warga asli Eropa seakan-akan menjelma menjadi gelombang yang menghanyutkan apa yang telah terbangun. Dipicu dengan fenomena eksodus pemuda-pemudi muslim Eropa yang berangkat ke Syria untuk bergabung dengan Islamic State (IS), eksodus ini membangunkan kekhawatiran masyarakat Eropa akan wabah radikalisme agama (Islam) terutama pada kalangan generasi muda Islam yang jelas berpotensi merusak tatanan kultur-sosial hingga soal isu keamanan Eropa. Hal ini semakin diperburuk dengan peristiwa teror bom bunuh diri yang ditengarai dilakukan oleh anggota IS di tanah Eropa mulai dari London, Madrid, Paris, Ankara, Istanbul hingga yang terkini Brussel yang seakan-akan membenarkan kekhawatiran di atas.

Meski pada umumnya masyarakat Eropa, terutama Eropa barat, ialah masyarakat yang terdidik dan terbuka, namun Eropa bukanlah benua yang dihuni para malaikat. Tidak sedikit jumlah warga Eropa asli yang sejak awal sudah mengekspresikan ketidaknyamanannya dengan kehadiran muslim akibat persepsi negatif mereka sendiri terhadap kaum muslim. Fenomena teror IS di Eropa ibarat pemantik api yang semakin membakar pandangan negatif mereka terhadap muslim Dan momen teror IS serta membanjirnya pengungsi Syria ke Eropa mereja jadikan momen mematikan untuk meraih dukungan populis Eropa untuk menyatakan bahwa muslim bukan bagian dari Eropa dan harus angkat kaki dari benua ini.

Keberhasilan partai yang baru lahir Alternative für Deutschland (AfD, Alternatif untuk Jerman) yang mendapat dukungan dan meraih suara signifikan di beberapa negara bagian Jerman serta bangkitnya gerakan sayap kanan semisal Patriotismus Gegen Islamisierung des Abendlandes (Pegida, Patriotisme Melawan Islamisasi tanah Oksident/Barat) sedikit banyak berhasil menyudutkan muslim Eropa sebagai pihak yang bertanggung jawab atas segala pergolakan yang tengah terjadi. AfD dan Pegida yang merupakan wadah kelompok sayap kanan radikal tumbuh menggelembung dengan memanfaatkan isu-isu diatas. Masih segar dalam ingatan bahwa Ketua AfD mengkampanyekan “tembak di tempat” untuk pengungsi (Syria) yang datang ke Jerman. Atau pada kesempatan lain, perdebatan soal boleh tidaknya memakai hijab bagi muslimah di wilayah publik.

Di sisi lain, Austria, baik pemerintah maupun rakyatnya, cukup akomodasi terhadap komunitas muslim. Bahkan siswa muslim diberi hak yg sama untuk menerima pelajaran agama Islam dan diberi keleluasaan untuk absen ketika hari besar Islam. Namun perkembangan terkini Eropa berkaitan dengan persoalan IS, teror, radikalisme serta pengungsi berhasil memaksa pemerintah Austria merevisi Undang-undang yang mengatur kedudukan Islam dalam negara (Islamgesetz). UU yg sudah direvisi tersebut terasa sangat membatasi ruang gerak muslim Austria dibandingkan dengan UU versi lama. Yang paling memberatkan ialah adanya larangan agar komunitas muslim Austria menerima dana sumbangan dari luar negeri. Padahal sumber dana luar negeri ialah salah satu penerimaan besar untuk biaya operasional mesjid dan aktivitas dakwah.

Singkatnya, muslim Eropa seakan-akan mendapat cobaan dua arah; dari depan datang dari sebagian warga Eropa berhaluan ekstrim kanan yang cenderung rasis, dan tusukan dari belakang melalui aksi merugikan muslim yang didalangi oleh IS.

Sebenarnya, situasi yang dialami muslim Eropa masih jauh dari apa yang dikhawatirkan sebagai sebuah Islamophobia, atau anti-Islam. Mainstream warga Eropa termasuk media utama cukup bijak dalam membedakan mana muslim dan mana kelompok yang mengatasnamakan atau memainkan nama agama semisal IS. Mainstream Eropa masih berkeyakinan bahwa aktifitas teror tidak berlandaskan agama manapun, atau IS tidak berkaitan apapun dengan agama Islam. Dari sisi aspirasi politik, meski terdapat kenaikan signifikan kelompok sayap kanan (partai AfD di Jerman dan partai FPÖ di Austria yang sama-sama menolak imigran terutama dari timur tengah), mainstream warga Eropa masih mempertahankan nilai tradisi mereka yang konservatif namun terbuka. Dapat dilihat bagaimana massifnya unjuk rasa warga Eropa meminta pemerintahan mereka membuka perbatasan untuk menampung pengungsi yang datang dari Afrika utara, Syria, Irak dan Afganistan. Terlebih lagi aksi solidaritas dan sukarela warga Eropa menjadi sukarelawan yang mengorganisasikan penampungan dan bantuan sandang dan pangan bagi pengungsi yang mayoritas dari negara-negara muslim tersebut.

Meski demikian, memang kerancuan masih tidak dapat dihindari. Penggunaan istilah untuk mengekspresikan aktifitas radikal dari segelintir kelompok muslim memang dirasakan membawa getah kepada muslim Eropa keseluruhan. Jihadist, Islamist atau Salafist (dalam bahasa Jerman -pen) merupakan istilah yang dipergunakan media, politisi dan warga Eropa untuk merujuk pada kelompok IS dan sejenisnya. Padahal, tiga istilah ini bukanlah istilah yang buruk menurut muslim karena berasosiasi dengan istilah mujahidin, muslim itu sendiri maupun gerakan salafi.

Muslim Eropa sendiri bukan tidak memiliki suara untuk meluruskan perspektif Eropa yang masih keliru memahami Islam. Namun sayangnya, suara muslim tidak terwakili di dalam sosok atau figur masyarakat yang vokal. Sosok Dr. Tariq Ramadhan, professor di Universität Zürich dan cucu dari pendiri Ikhwanul Muslimin Hassan al Banna, bisa dikatakan sosok muslim yang representatif dan independen yang selalu bersuara lantang terhadap kesalahan persepsi warga Eropa terhadap muslim dan Islam.

Sayangnya kehadiran sosok-sosok seperti Dr. Ramadhan lain yang giat mengkampanyekan informasi yang shahih tentang Islam tidak banyak. Meski secara organisasi, tiap negara memiliki asosiasi muslim sendiri, posisinya tidak sekuat sosok individu Dr. Ramadhan. Islamisches Zentrum Wien atau Pusat Islam Wina, Austria sebenarnya tidak tinggal diam dalam merespon ketiadaan sosok muslim sebagai figur representatif muslim Eropa. Pelbagai macam informasi dan buku telah disebarluaskan untuk meluruskan pandangan warga Austria tentang Islam. Apakah ini berlaku cukup efektif, wallahu a’lam. Allah yang akan memberi imbalan atas ikhtiar mereka.

Sosok yang berada di barisan muslim Eropa tidak sedikit yang datang dari warga asli Eropa non-muslim sendiri. Mungkin yang paling gencar berkampanye soal ketidakadilan pemberitaan, kesalahan persepsi Eropa terhadap muslim serta pemutarbalikkan fakta akan muslim yang sebenarnya ialah wartawan senior Jerman Jürgen Todenhöfer. Dalam buku best sellernya “Inside IS : 10 Tage in islamischen Staat” (Di dalam IS : 10 hari di wilayah IS), dia tidak hanya memaparkan fakta kesaksiannya sendiri soal perbedaan IS dengan mainstream muslim dan dunia Islam, namun juga memaparkan dengan fakta-fakta bahwa Eropa pernah jauh lebih tidak manusiawi dari IS: (Baca : Inside IS : 10 Tage in islamischen Staat). Untuk Herr Todenhöfer sendiri, penulis perlu mengapresiasi jerih payahnya yang tidak memungut sepeser pun dari royalti buku tsb. Seluruh hasil penjualan bukunya diserahkan untuk membantu anak-anak Palestina di Jalur Gaza.

Sosok lain yang juga datang dari Eropa ialah Gerhard Schweitzer. Penulis senior yang berdomisili di Wina ini juga secara jernih dan obyektif menulis soal latar belakang apa yang terjadi di Syria dalam bukunya “Syrien Verstehen” (Memahami Syria) yang baru saja diterbitkannya. Jika sebagian warga Eropa mengambil profil IS yang jauh dari kata toleran terhadap muslim yang beraliran berbeda serta kelompok yang beragama lain sebagai wujud wajah muslim dan islam, maka Herr Schweitzer justru menggali jauh lebih dalam soal bagaimana indahnya toleransi muslim kepada penganut agama lain (kristen, yahudi dan majusi) pada masa kekuasaan Khalifah Muawiyah di Damaskus pada 638 M. Herr Schweitzer menggambarkan secara detail bagaimana kekhalifahan Umayyah membangun banyak fasilitas ibadah untuk pemeluk agama-agama tersebut dan membantah adanya klaim bahwa muslim memaksakan Islam untuk dijadikan agama satu-satunya untuk wilayah Umayyah (Baca : Gerhard Schweitzer, Syrien Verstehen).

Dalam situasi ini, peran dakwah muslim Eropa sejatinya tengah dinantikan untuk dapat mewakili muslim dan mempromosikan wajah muslim dan Islam. Dakwah yang difokuskan untuk memperkenalkan Islam jelas membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras karena membutuhkan aktifitas yang berkelanjutan tanpa kenal lelah, dan kerja cerdas karena memerlukan aktifitas dakwah yang sistematis serta dilakukan secara jama’i atau bersama-sama.

Dan semua itu dapat dimulai dari hal yang terkesan sederhana. Senyum dan dan menyebarkan salam kepada tetangga atau rekan kerja dan teman kuliah merupakan unique selling point-nya seorang muslim yang memberikan energi positif. Shalat di tempat kerja juga mampu memperkenalkan Islam ke tengah-tengah masyarakat Eropa bagaimana seorang muslim/muslimah memelihara aktifitas spiritualnya secara disiplin dan konsisten. Jika selama ini warga Eropa non-muslim sudah kenal dengan aktifitas muslim pada bulan Ramadhan, namun melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang muslim berpuasa 18 jam di musim panas jelas merupakan kesempatan memperlihatkan contoh baik sosok muslim yang taat. Muslim pun perlu berpikir terbuka untuk membuka peluang dialog dengan siapa saja perihal isu sensitif, termasuk soal gender dalam Islam, terorisme, pengungsi Syria, hijab dan lain sebagainya. Di samping itu, kontribusi muslim di lingkungannya dengan berbaur bersama komunitas lokal juga perlu dijadikan agenda bersama agar tidak terjadi parallel society atau situasi di mana muslim cenderung hanya berinteraksi dengan sesama muslim saja di tengah-tengah Eropa. Kelangkaan penulis muslim Eropa yang aktif menerbitkan buku berkualitas dan ilmiah melakukan counter opinion dapat dicarikan solusinya dengan aktif berkontribusi di media online berbahasa lokal mengenalkan Islam.

Akhirulkalam, bisa jadi kondisi sekarang ini sosok figur utama yang mampu merepresentasikan muslim di Eropa belum terlahir. Namun hal ini jelas tidak boleh menghalangi figur-figur individu yang meski jauh lebih kecil skalanya, dapat bergerak secara aktif, terfokus, sistematis dan secara berjamaah meluruskan persepsi yang salah tentang muslim atau Islam kepada Eropa.

Wallahu a’lam bishawab.

Oleh : Rachmat Adhi Wibowo

(Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dari penulis dan bukan merupakan pandangan resmi yang mewakili Wapena sebagai sebuah organisasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.