Tentang Maher Taweel dan Buah Amal Baik

Maher Taweel & Jumbo Donair Kebab

Oleh: Arya Gunawan Usis

Sebetulnya tiada yang terlampau istimewa dalam keseharian Maher Taweel. Setiap hari, lelaki di usia jelang paruh-baya asal Palestina ini, menjalani rutinitas yang nyaris sama: bersama istrinya, dia melayani para pembeli di kedai kebab miliknya yang terletak di salah satu ruas jalan kota Edmonton, Kanada. Kedai sederhana ini, Jumbo Donair, dikelolanya sejak dua tahun terakhir. Bisnis Maher berjalan cukup lancar, namun keuntungan yang diraihnya tidaklah terlalu luar biasa; sekadar cukup untuk menopang kebutuhan keluarganya. Dalam beberapa waktu belakangan ini, Maher bahkan tengah memikirkan untuk menjual kedainya, guna membiayai pengobatan gangguan persendian pada bagian kaki yang dideritanya.

Rutinitas yang tampak bersahaja ini menjadi berubah, setelah peristiwayang terjadi di tanggal 28 Maret 2016 lalu. Di hari itu, seorang pemuda yang berpenampilan kumal masuk ke kedainya, dan menyorongkan setumpuk uang receh ke hadapan Maher, dalam jumlah yang tak cukup untuk hargaseporsi kebab. Dengan sorot mata penuh pengertian, raut wajah yang dihiasi seulas senyum dan tanpa keberatan sama sekali, Maher menyiapkan kebabnya dan menyodorkannya dengan gratis kepada si pemuda.

Seorang gadis yang kebetulan sedang bersantap bersama ayahnya di kedai tersebut dan menyaksikan kejadian itu, merasa sangat terkesan dengan perbuatan welas-asih dan tanpa pamrih yang diperlihatkan Maher kepada si pemuda. Sang gadis memposting informasi tentang peristiwa itu di halaman facebooknya, atas nama MacKenzie Brandvold:

“Hari ini, aku dan ayahku makan di Jumbo Donair di Jalan 66. (Burger halal yang terbaik dibuat di tempat ini!!!). Pesanan kami datang, kami duduk dan menyantapnya sambil membaca suratkabar, dan mendapatkan pengalaman yang belum pernah kualami sebelumnya. Sang pemilik kedai bukan hanya menghidangkan makanan Arab yang amat lezat yang dibuatnya sendiri, dia juga memberikan porsi ekstra kepada kami karena aku mengatakan padanya bahwa aku penggemar daging kambing. Di saat kami hampir selesai dengan santapan kami, seorang lelaki dengan penampilan lusuh masuk ke kedai dan memberitahu sang pemilik kedai bahwa dia tak memiliki cukup uang. Sang pemilik kedai menjawab, tanpa ragu, ‘jika anda lapar, saya akan kasih anda makanan.’ Perbuatan ini menyentuh hatiku. Bukan hanya dia memberi si lelaki lusuh itu makanan gratis; dia juga telah menyadarkanku bahwa kita tak bisa menilai orang dari keadaan hidup mereka.”

Di zaman dimana kemajuan teknologi telah memungkinkan informasi dibagi dan dipertukarkan dalam kecepatan tinggi, postingan nona Brandvold segera menjadi viral dan mendapatkan begitu banyak tanggapan positif. John Marshall, misalnya, setelah membaca postingan itu menanggapi bahwa dia harus memberikan bantuan untuk usaha Maher. “Saya amat tersentuh dengan kisah ini.”

Ami Kitzman juga membaca postingan kisah Maher ini, dan memutuskan mengajak anak lelakinya, dan saudara lelakinya untuk membeli doner kebab di kedai Maher, sebagai wujud dukungan kepada kebaikan yang ditunjukkan Maher dalam menolong orang yang membutuhkan.”Kebabnya enak, dan sang pemiliknya juga sangat ramah. Mereka pasangan yang menyenangkan,” kata Ami Kitzman mengenai Maher dan istrinya.

Dan sebelum Maher menyadari apa yang sesungguhnya telah terjadi di luar sepengetahuannya, keesokan harinya kedainya dibanjiri pembeli. Menurut Maher, hari itu adalah hari tersibuk sepanjang dua tahun keberadaan kedainya.

“Setiap yang datang berkata pada saya, ‘Terima kasih. Anda orang baik’. Saya tak bisa melukiskan bagaimana perasaan saya,” ungkap Maher kepada wartawan yang mewawancarainya setelah kisah mengenai perbuatan baiknya menjadi bahan pembicaraan banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Maher juga mengatakan bahwa dia tersentuh saat seorang perempuan meninggalkan uang tip sebesar 20 dolar Kanada sebagai wujud rasa terima kasihnya kepada perbuatan baik yang ditunjukkan Maher.

Tak kurang dari radio nasional Kanada CBC juga ikut mengundang Maher untuk diwawancarai di studio mereka. Ditemani putrinya, dalam wawancara itu Maher mengungkapkan bahwa pertolongan berupa kebab gratis yang diberikannya kepada pemuda yang kelaparan dan tak punya uang itu, bukanlah hal istimewa baginya. Itu merupakan bagian dari nilai-nilai agama Islam yang ditanamkan oleh orangtuanya sedari kanak-kanak. “Kita harus menolong mereka yang membutuhkan. Jika hari ini saya menolong orang, besok barangkali saya juga memerlukan pertolongan,” ujar Maher.

Maher mengatakan ini dengan merujuk langsung kepada pengalamannya sendiri. Dia dan keluarganya pindah dari Palestina tahun 2002, sebagai pengungsi. Dia beranggapan bahwa dia dan keluarganya telah diterima oleh Kanada dengan tangan terbuka, hingga menjadi pemukim di Edmonton. Kota dengan jumlah penduduk sekitar 900 ribu jiwa—sekitar separuh dari penduduk Wina—yang terletak sekitar 3.500 kilometer di sebelah barat ibukota, Ottawa, bahkan memberikannya peluang untuk memiliki berusaha lewat kedai kebabnya itu. Itu sebabnya Maher selalu mencoba menolong sebanyak mungkin orang sebatas kemampuannya.

Berkat satu postingan di facebook, diikuti oleh liputan media yang luas, lewat kebaikan hatinya itu Maher kini dianggap sebagai “pahlawan” oleh sebagian warga Edmonton. Kedai kebabnya pun menjadi lebih sibuk melayani gelombang para pembeli yang bertambah. Maher pun mengurungkan niatnya untuk menjual kedai itu, dan memutuskan untuk melanjutkan mengelola bisnis yang menjadi sumber pemasukan bagi keluarganya tersebut.

Kisah Maher merupakan salah satu contoh terbaru—yang kebetulan mendapatkan perhatian luas dari media—dari banyak kisah menarik lainnya mengenai pentingnya berbuat baik dan memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Dan buah dari amal baik dan aksi menolong ini biasanya juga berupa perbuatan baik dan pertolongan yang akan didapat oleh si pemberi, seringkali tanpa disangka dan bahkan tak jarang di saat-saat yang genting. Saya sendiri, misalnya, kerap mendengar secara langsung kisah-kisah yang mirip, beberapa di antaranya seperti berikut ini.

Di tahun 2010, seorang lelaki dosen senior di Universitas Indonesia sedang menghadiri satu konferensi di Beijing. Di hari terakhir, seusai acara, sang dosen berencana mengunjungi Tembok Besar Cina, menggunakan kendaraan umum, dari dekat hotel tempatnya menginap dia menggunakan kereta komuter dalam kota sampai di stasiun terujung, lalu disambung dengan bus umum yang memakan waktu selama sekitar dua jam perjalanan hingga tiba ke Tembok Cina. Setelah keluar dari kereta di stasiun terakhir dan saat dia kebingungan mencari arah lokasi stasiun bus, dia bertanya kepada petugas keamanan stasiun. Dengan serta merta sang petugas—seorang lelaki muda yang pantas menjadi anak sang dosen—tanpa diminta keluar dari ruangan tempatnya dan berjalan bersama sang dosen menuju stasiun bus yang berjarak lebih dari 100 meter. Sang dosen terpana dengan kebaikan yang diperlihatkan si petugas berseragam ini. Namun setelah dia mencoba mengingat-ingat, ternyata berpuluh tahun sebelumnya sang dosen juga pernah memberikan pertolongan yang mirip kepada seseorang yang tengah kebingungan mencari lokasi yang hendak dituju.

Saya juga pernah mendengar ada seorang kawan yang baru-baru ini hendak menjemput anggota keluarganya di bandar udara Wina. Kawan ini memiliki status diplomatik yang memungkinkannya untuk masuk ke dalam bandara, dan menanti keluarganya di pintu keluar para penumpang. Syaratnya hanya menunjukkan kartu izin tinggal Austria (red legitimation card) di pintu masuk, dan kemudian memperlihatkan kartu yang sama beserta paspor kepada petugas di bagian pemeriksaan imigrasi keberangkatan, sebelum menuju ke dalam bandara. Saat tiba di hadapan petugas imigrasi, barulah sang kawan tersadar bahwa paspor yang dibawanya adalah paspor yang lama dan sudah tidak berlaku lagi.

Dengan ragu dan rasa khawatir tak akan diizinkan masuk ke dalam bandara, sang kawan menjelaskan keadaannya kepada si putugas imigrasi. Tak disangkanya si petugas bersedia mempertimbangkan, dan melalui telepon genggam menghubungi rekan kerjanya petugas pemeriksaan imigrasi di bagian ketibaan. Setelah selesai berkomunikasi, dia mengatakan kepada sang kawan, “Oke, silakan. Saya sudah beritahu kolega saya, supaya anda tidak menghadapi masalah saat melewati pemeriksaan di bagian ketibaan nanti,” demikian kata si petugas.

Sang kawan mengucapkan terima kasih tulus tak terhingga karena diperbolehkan masuk kendati dengan kondisi yang sebetulnya tidak memenuhi syarat, yang kemudian dibalas si petugas, “Tidak masalah. Jika kami bisa menolong, mengapa tidak.” Belakangan, saat penasaran memikirkan kembali kebaikan si petugas imigrasi ini, ingatan sang kawan terlontar ke satu kejadian bertahun-tahun silam, ketika dia pernah mempersilakan seseorang hadir di sebuah acara pertunjukan dimana dia menjadi salah seorang petugas penjaga pintu masuk, kendati orang tersebut tidak membawa untuk tanda masuk yang lengkap.

Kebaikan insya Allah akan selalu diganjar dengan kebaikan juga. Inilah keyakinan yang dianut oleh Maher Teewal, dan ini pula keniscayaan yang dianut oleh kita semua sebagai waga Wapena, yang diwariskan oleh para orangtua kita berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Saya pribadi sejak kecil selalu diingatkan oleh ayah saya (yang telah berpulang sejak tahun 1992 silam), agar jangan pernah menolak jika ada orang yang tengah memerlukan pertolongan. Terlebih lagi apabila pertolongan tersebut terkait dengan pendidikan. Setiap yang datang membutuhkan uluran tangan, hendaknya dibantu, sesuai dengan kemampaun yang ada pada kita.

Kita yang hidup di era teknologi canggih ini, sebetulnya amatlah diuntungkan karena semakin mudahnya kita mendapatkan cara dan saluran untuk menolong sesama. Beberapa cara dan salurannya terasa cukup unik. Misalnya saja apa yang diterapkan oleh kafe Eititu, satu kafe yang digagas oleh para anggota alumni Insititut Teknologi Bandung angkatan 1982 (mereka yang masuk ITB tahun 1982). Kebetulan saya menjadi salah seorang anggotanya. Kafe yang beroperasi sejak September 2015 lalu dan berada di dalam kampus ITB di Jalan Ganesha 10 Bandung itu, dilahirkan dari iuran sekitar 150 alumni, dengan jumlah dana yang sama yakni Rp 1 juta per alumni.

Alhamdulillah, kafe ini berhasil menyedot banyak pengunjung, terutama karena kelezatan menunya dan harganya yang relatif terjangkau. Namun yang paling menarik dari kafe ini adalah salah satu programnya yang disebut “pending food”. Diilhami dan meniru satu kafe di salah satu kota di Amerika Serikat yang sempat diposting di facebook beberapa waktu sebelumnya, program “pending food” kafe Eititu ini mengajak para pengunjung yang mampu untuk membeli/membayar makanan yang lebih besar dari porsi/menu yang mereka pesan. Pengunjung hanya membeli satu porsi, namun dia membayar harga untuk lebih dari satu porsi. Kelebihan porsi ini akan “disimpan” oleh pengelola kafe, untuk kemudian dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa yang kurang mampu.

Khusus mengenai kisah Maher, maknanya bisa jadi terasa lebih besar daripada sekadar perbuatan baik menolong sesama. Sebab, peristiwanya terjadi di pekan yang sama ketika pemerintahan Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, berjanji akan menampung 10 ribu lagi pengungsi dari Suriah, menambah jumlah 15 ribu pengungsi yang sudah mereka tampung sebelumnya. Kisah Maher yang kini menjadi pembicaraan banyak orang ini tentu akan menambah simpati dan sikap terbuka dari pemerintah dan warga Kanada, bahwa kebaikan dan kebajikan juga bisa datang oleh seorang yang juga datang ke Kanada sebagai pengungsi. Dan lebih dari itu, itu adalah juga kebaikan dan kebajikan yang menjadi bagian dari nilai-nilai Islam. Kita semua tentu juga bisa menjadi “Maher-Maher” lainnya di Austria ini, di saat yang sama ketika barangkali sebagian orang memandang pengungsi dan Islam dari sudut pandang yang mungkin agak berjarak dan tidak terlampau bersahabat.***

2 Comments

    eas

    artikel yang menarik dan memberi inspirasi, tks atas sharingnya

    Abdullah

    Partisipasi dan amal jariyah dalam perluasan dan pembangunan masjidil
    haram dan masjid Nabawi

    1. Niat Ibadah ( dari Allah,Karena Allah dan untuk Allah)
    2. Membawa beberapa batu kerikil kecil yang Haq dari tanah air
    3. Point no 2 dapat dibawa sendiri/ dititipkan kepada Jamaah yang akan
    berangkat Umroh dan Haji
    4. Batu kerikil diletakkan diarea yg sedang dibangun/di Cor semen
    5. Atau dititipkan kepada pekerja pembangunan agar diletakkan ditempat
    tersebut
    6. Mudah-mudahan Allah Ridho dengan apa yang kita kerjakan

    * Umumnya waqaf qur’an
    * Tidak ada kotak amal di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
    * Mungkin Batu kerikil tidak berarti untuk sebagian orang,akan tetapi
    jika diletakkan di kedua Masjid tersebut,paling tidak batu kerikil ini
    akan menjadi bagian terkecil dari bangunan tersebut.
    * Moment Perluasan dan Pembangunan Masjidil haram dan Masjid Nabawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.