Tata Laksana Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19

Panduan Tata Laksana Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19

Idul Fitri secara bahasa artinya: Hari raya untuk berbuka, yaitu kembali makan, minum dan kebutuhan biologis lainnya, setelah menahan hal tersebut selama sebulan lamanya. Secara filosofis dimaknai sebagai hari raya kemenangan, kebahagiaan dan kesyukuran atas keberhasilan menjalankan amaliah ibadah Ramadhan dalam beragam bentuknya, dengan sebaik-baiknya. Karenanya harus berbuka (iftar: Fitr) dan diharamkan untuk berpuasa pada hari tersebut.

Allah swt mengingatkan akan anugerah hari raya Idul Fitri kepada orang beriman, dengan perintah memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil sebagai wujud kesyukuran atas hidayah dan bimbingan Allah swt sepanjang pelaksanaan ibadah agung di Bulan Ramadhan,

 وَلِتُكۡمِلُوا۟ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama tafsir memahami makna ‘Dan mengagungkan Allah swt atas petunjukNya‘ sebagai perintah bertakbir di hari raya Idul Fitri, sejak terlihat atau ditetapkan hilal 1 Syawwal hingga Imam memimpin shalat atau naik mimbar untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri.

Dalam riwayat, Nabi saw mencontohkan dengan keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai shalat selesai dijalankan. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)

Sahabat Rasulullah saw yang sangat ketat mengikuti semua perilaku dan perbuatan Rasulullah saw juga meniru praktek Rasulullah saw. Dari Nafi: “Ibn Umar bertakbir pada hari Idul Fitri ketika keluar rumah sampai tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)

Demikian juga seorang tabi’in, Muhammad bin Ibrahim menginformasikan tentang sahabatnya: “Dahulu Abu Qatadah berangkat menuju lapangan pada hari raya Idul Fitri, kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)

Berdasarkan panduan amaliah Rasulullah saw, sahabat dan tabi’in di atas, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak takbir mengagungkan Allah swt. Sehingga esensi dari Idul Fitri adalah bertakbir mengagungkan Allah atas petunjukNya, serta mensyukuri karuniaNya dalam bentuk makan, minum dan kebutuhan biologis lainnya, sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan.

Takbir yang biasa dijalankan oleh kita merujuk kepada contoh dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, dalam dua riwayatnya:

أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

 (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa Ilaaha illallahu wallahu akbar

Allahu akbar wa lillahil hamd

Namun dalam rangka menguatkan semangat bertakbir dan kebersamaan syi’ar Idul Fitri, Rasulullah saw menganjurkan untuk menunaikan shalat dua rakaat yang disebut dengan nama hari tersebut, yaitu Shalat Idul Fitri.

Shalat Idul Fitri disepakati hukumnya Sunnah Mu’akkadah, dalam arti sangat dianjurkan, mengingat keagungan hari tersebut.  Tempat yang paling afdhol adalah lapangan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw atau masjid tempat berkumpul dan beribadahnya orang banyak.

Namun dalam kondisi tertentu yang dikategorikan ‘Udzur Syar’i’ (Udzur yang dibenarkan syariat), udzur yang di luar kemampuan manusia, seperti musibah, bencana dan keadaan darurat lainnya, termasuk saat wabah pandemi Covid-19, maka shalat Idul Fitri dapat dijalankan atau tidak dijalankan. Dapat pula dijalankan di rumah bersama keluarga atau sendirian. Tata cara mendirikan shalat Id tidak berbeda dengan shalat-shalat lainnya kecuali pada niat dan penambahan takbir zawaid (takbir tambahan) tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua.

Tata Cara Shalat Idul Fitri:

1. Niat Shalat Idul Fitri

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca Doa Iftitah

4. Takbir (takbir zawa-id) sebanyak tujuh kali. Di antara setiap takbir, membaca kalimat tasbih yakni:

سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallahi wal hamdulillahi wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar

Artinya: “Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada ilah kecuali Allah, Allah Maha Besar.”

Bacaan setelah setiap takbir ini tidak dibatasi dengan bacaan di atas saja.

5. Setelah akhir takbir ke tujuh, membaca surat Al Fatihah

6. Dilanjutkan dengan membaca surat lainnya (disunnahkan membaca surat Al-A’la)

Jika seorang makmum, maka cukup menyimak surat lainnya yang dibacakan oleh imam.

7. Ruku’ dengan thuma’ninah

8. I’tidal dengan thuma’ninah

9. Sujud dengan thuma’ninah

10. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah

11. Sujud kedua dengan tuma’ninah

12. Bangkit dari sujud dan bertakbir

13. Takbir (takbir zawa’id ) lagi sebanyak lima kali, di antara takbir membaca kalimat tasbih seperti di atas kembali

14. Membaca surat Al Fatihah

15. Dilanjutkan dengan membaca surat lainnya (disunnahkan membaca surat Al-Ghasyiyah)

Sama seperti sebelumnya.

16. Ruku’ dengan thuma’ninah

17. I’tidal dengan tuma’ninah

18. Sujud dengan thuma’ninah

19. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah

20. Sujud kedua dengan thuma’ninah

21. Duduk tasyahud dengan thuma’ninah

22. Salam

23. Mendengarkan khutbah (Meskipun hukum mendengarkan khutbah itu sunnah)

Khutbah Idul Fitri

Mayoritas Ulama sepakat, hukum khutbah shalat Idul Fitri adalah sunnah. Karenanya, pelaksanaannya adalah setelah shalat, berbeda dengan khutbah jum’at. Malah jika dilakukan sebelum shalat Idul Fitri, maka tidak dianggap dan mengulanginya setelah shalat. Kesunnahan khutbah tersebut berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas ra:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Aku menghadiri shalat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah” [HR. Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Ibnu Umar juga meriwayatkan:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Aku menghadiri salat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah” [HR. Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Disunnahkan memulai khutbah dengan takbir, khutbah pertama bertakbir sembilan kali dan khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali. Takbir tersebut bukan merupakan inti dari khutbah namun hanya mukaddimah saja. Khutbah dianjurkan berisi pembahasan mengenai keimanan, ketakwaan, amal shalih, khususnya dikaitkan dengan kondisi kontemporer sebagai panduan dan nasihat untuk jama’ah shalat.

Menghadiri dan mendengarkan khutbah Idul Fitri juga dihukumi sunnah, sesuai dengan hukum khutbah itu sendiri. Pilihan tersebut berdasarkan riwayat Abdullah bin Sa’ib:

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Sesungguhnya ketika kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah”.

Imam Ibnu Qayyim –rahimahullah– berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang menghadiri salat Idul Fitri untuk tetap duduk mendengarkan khutbah atau keluar karena ada keperluan syar’i”. Dalam keadaan udzur syar’i berupa Covid-19, maka jika shalat Idul Fitri dijalankan di rumah dan sendirian, cukuplah tidak dilanjutkan khutbah. Namun jika di rumah dengan beberapa keluarga, maka disunnahkan untuk disampaikan khutbah Idul Fitri jika keadaan memungkinkan atau jika tidakpun tidak mengapa. Wallahu A’lam.

Silakan unduh versi pdf disini

PEMBERITAHUAN LANJUTAN

PEMBERITAHUAN LANJUTAN

  1. Sebagaimana disampaikan sebelumnya, merujuk kepada kebijakan Pemerintah Federal Austria dan IGGÖ terkait penanganan Coronavirus, maka mulai tanggal 15 Mei 2020 kegiatan keagamaan di Rumah-rumah Ibadah di wilayah Austria telah diperbolehkan dengan persyaratan kebersihan dan keselamatan yang sangat tinggi.
  2. IGGÖ telah mengeluarkan Panduan Umum mengenai Pembukaan Kembali Masjid Secara Bertahap.
  3. Terkait persyaratan kebersihan dan keselamatan yang sangat tinggi, maka hal tersebut harus dipenuhi oleh para pengurus masjid sebelum mereka mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan harian di masjid mereka.
  4. Setelah mempertimbangkan aspek-aspek kesehatan dan keselamatan yang merupakan prioritas utama, maka diputuskan bahwa Masjid AS-SALAM WAPENA akan tetap DITUTUP hingga hari Minggu, tanggal 24 Mei 2020.
  5. Hingga tanggal tersebut di atas, maka TIDAK ADA kewajiban Sholat Jum’at untuk para warga WAPENA dan diharapkan untuk tetap melaksanakan Sholat Zhuhur di rumah masing-masing.
  6. Juga diputuskan bahwa kegiatan Ramadhan 1441 H tetap diadakan di rumah masing-masing dengan mengikuti kajian-kajian online yang telah diumumkan dan Sholat Tarawih dilaksanakan sendiri atau berjamaah di rumah. Sholat Idul Fitri 1441 H di luar rumah juga DITIADAKAN. Sholat Idul Fitri bisa diadakan di rumah masing-masing.
  7. Demikian, pemberitahuan ini dibuat dan harap maklum.

Terimakasih atas perhatiannya.

A.n. Pengurus WAPENA

PEMBERITAHUAN 30/04/2020

PEMBERITAHUAN

Merujuk kepada kebijakan Pemerintah Federal Austria terkait penanganan Coronavirus, maka mulai tanggal 15 Mei 2020 kegiatan keagamaan di Rumah-rumah Ibadah di wilayah Austria telah diperbolehkan dengan persyaratan kebersihan dan keselamatan yang sangat tinggi.

IGGÖ sebagai institusi resmi Agama Islam di Austria akan memberikan pemberitahuan terkait langkah pembukaan kembali masjid secara bertahap di beberapa minggu ke depan.

Untuk saat ini, mari kita tetap melaksanakan sholat dan buka puasa di rumah masing-masing.

Pemberitahuan selanjutnya akan menyusul.

Terimakasih atas perhatiannya.

A.n. Pengurus WAPENA

PEMBERITAHUAN

Pemberitahuan

merujuk kepada kebijakan Pemerintah Federal Austria terkait penanganan Coronavirus, maka diputuskan bahwa Masjid AS-SALAM WAPENA akan tetap ditutup hingga tanggal 30 April 2020.

Jika ada perubahan di kemudian hari, tentunya pemberitahuan lebih lanjut akan disampaikan.

Terimakasih atas perhatiannya.

A.n. Pengurus WAPENA

Program Wakaf Wapena 2019

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mari beramal jariah untuk hidup dunia akhirat yang penuh berkah!

Wapena telah meluncurkan ‘Program Wakaf Wapena 2019‘ guna membeli bangunan baru Masjid As-Salam. Bertambahnya jamaah Wapena serta berkembangnya TPA dan Badan Usaha menimbulkan kebutuhan ruang yang lebih luas (saat ini 106 m²).

Kemajuan terkini:
– telah terkumpul 180.000 EUR dari target 600.000 EUR (pencapaian 30%)
– terdapat lokasi potensial di 20. Bezirk (dekat U6 Jägerstrasse) seluas 282 m²
– Proposal Wakaf Wapena 2019 dapat diunduh di sini atau akses langsung di masjid.wapena.org

Berapapun bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian sangat berarti dan dinilai tinggi oleh Allah SWT. Donasi wakaf dapat ditransfer kapan saja (tanpa batas waktu) langsung ke (khusus transfer Austria):
DER INDONESISCHE ISLAMISCHE VEREIN
AT14 12000 5138 2106 601 (Bank Austria)
(Keterangan transfer: Wakaf)

Konfirmasi dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Rasmi 06763302008 (WA/SMS) atau akses masjid.wapena.org.

Terima kasih banyak atas segala bantuan dan donasi Anda! Semoga Allah SWT melimpahkan berkah-Nya atas amal jariah Bapak/Ibu/Saudara/i. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Arsip: Program Wakaf 2018, Program Wakaf 2017

Open Recruitment Pengurus WAPENA 2018-2020

Pada suatu hari….

Ada seorang Indonesia yang baru saja datang ke Austria, sebut saja Wawan. Di sebuah masjid, setelah shalat Dzuhur, dia ditakdirkan bertemu orang lain yang tampang wajahnya mirip orang Indonesia. Terjadilah prcakapan diantara keduanya

Wawan: Assalamu’alaikum Entschuldigung. Sind Sie aus Indonesien?

Alpena: Wa’alaikumussalam, Ja, ich bin aus Indonesien

Wawan: Alhamdulillah, ketemu orang Indo juga hehe, perkenalkan mas, nama saya Wawan. Saya lagi nyari alamat wohnung saya nih mas. Klw gk salah malfattigasse.

Alpena: Perkenalkan, nama saya Alpena. Wah kebetulan mas, saya jg setelah ini mau kesana.

Wawan: lah, ada apa disana mas?

Alpena: siang ini saya mau ke masjid Assalam Wapena atau warga pengajian Austria, itu masjid jama’ah Indo, Malaysia, dan skitarnya. Mereka jg lagi open recruitment pengurus baru loh.

Wawan: Wih mantep tuh mas kyknya seru, sya juga mau ikutan dftar pengurus juga nantinya. Boleh mnta infonya mas?

Alpena: Alhamdulillah, mas ada FB kan? Nomor Austrianya kan blm punya. Klw udh bisa akses internet, bisa akses fanpage FB nya: Wapena-Warga Pengajian Austria, dan klik link pendaftarannya di http://bit.ly/joinwapena. Klw no Austria nya udh aktif bisa hub jg mas Kabul +436606973566. Oh ya klw punya akun ig, jgn lupa juga follow info.wapena

Wawan: Sip lah hehe, makasih banyak mas, berarti sama sama kita ke masjid Assalam ya skrg mas, sekalian mau ke alamat wohnung saya.

Alpena: yup mas, yuk ciao kita

Mereka berdua pun akhirnya menuju Malfattigasse, alamat masjid Assalam Wapena.

So, kakak kakak jangan lupa daftar pengurus Wapena juga ya 😄

KEPUTUSAN MUSYAWARAH WARGA PENGAJIAN AUSTRIA (WAPENA) Tentang: PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN 1439 H DI AUSTRIA

PENTING! PENTING!

KEPUTUSAN MUSYAWARAH WARGA PENGAJIAN AUSTRIA (WAPENA)

NOMOR: 04/WAPENA/V/2018

Tentang:
PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN 1439 H DI AUSTRIA

Menimbang :
1. Bahwa demi kemudahan dalam persiapan dan pelaksanaan Ibadah-ibadah pada bulan suci Ramadhan 1439 H di Austria bagi para Muslim Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya
2. Demi keseragaman, persatuan ummat dan ukhuwah islamiyah dalam pengambilan keputusan terkait awal dan akhir Ramadhan di Austria
3. Yang dimaksud point 1 dan 2 di atas, maka dipandang perlu diterbitkan Surat Keputusan

Mengingat :
1. Sudah diputuskannya awal dan akhir Ramadhan 1439 H secara metode hisab oleh Dewan Musyawarah Organisasi Islamische Glaubensgemeinschaft in Österreich (IGGÖ) pusat sebagai organisasi Muslim resmi terbesar di Austria
2. Keanggotaan penuh Warga Pengajian Austria (WAPENA) dan terdaftar di bawah IGGÖ sebagai Moscheegemeinde (Komunitas Masjid)
3. Salah satu kecenderungan pengambilan metode hisab oleh Vienna Islamic Centre yang merujuk pada penanggalan Ummul Qura, selain metode lain seperti ru’yatul hilal
4. Sudah diadakannya Rapat Terbatas Dewan Musyawarah WAPENA pada hari Ahad yang lalu
5. Penyelenggaraan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari besar keagamaan bagi masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri
6. Perlunya diupayakan kemudahan bagi warga Muslim Indonesia dan Asia Tenggara di Austria terkait permintaan ijin untuk Hari Besar dari tempat pekerjaan dan sekolah bagi anak-anak
7. Sudah diputuskannya awal dan akhir Ramadhan 1439 H lewat metode hisab oleh pihak-pihak yang berwenang untuk Muslim di negara-negara tetangga seperti Jerman dan Belanda

Memutuskan:

M E N E T A P K A N :

*1. 1 Ramadhan 1439 H untuk para anggota WAPENA jatuh pada hari Rabu, tanggal 16 Mei 2018 M sesuai dengan ketetapan Dewan Musyawarah dan Mufti IGGÖ*
*2. 1 Syawal 1439 H untuk para anggota WAPENA bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 15 Juni 2018 M sesuai dengan ketetapan Dewan Musyawarah dan Mufti IGGÖ*
3. Meminta kepada para anggota WAPENA di seluruh Austria untuk memulai awal Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri 1439 H secara bersamaan demi keseragaman, persatuan ummat dan ukhuwah islamiyah di kalangan Muslim di Austria
4. Namun jika ada beberapa individu Muslim yang berlainan dalam hal penetapan awal maupun akhir Ramadhan, WAPENA menyadari akan perbedaan dalam pengambilan dan/atau mengikuti ijtihad tertentu dan tidak dalam posisi untuk memaksakan kehendaknya, demi kerukunan ummat.

Demikian surat keputusan ini dibuat, agar dapat diketahui.

Wina, 14 Mei 2018 M/28 Sya’ban 1439 H

TIM DEWAN MUSYAWARAH WAPENA

Program Wakaf Wapena 2018

 

Visi dan Misi Wapena 2018-2020 (Video)

Indonesia:

Mari berpartisipasi dalam Program Wakaf Wapena 2018 untuk memperluas Masjid As-Salam di Wina, Austria!

Transfer donasi langsung (rupiah, more info: masjid.wapena.org)

BANK MANDIRI CAB. TANJUNG DUREN
Atas Nama: Iskhak Fatonie
No. rek.: 116-0094007920

 

Info Program Wakaf 2017: WAKAF MAPAN Wapena 2.0

 

English:

Join us in Wakaf Wapena 2018 Program to expand our Masjid As-Salam in Vienna, Austria!

Direct donation transfer (euro – FOR AUSTRIAN ACCOUNT ONLY, for others more info :  mosque.wapena.org):

Name: Der Indonesische Islamische Verein
Account: 51382106601
BLZ: 12000 (Bank Austria)
IBAN: AT141200051382106601
BIC: BKAUATWW

 

 

Our Plan:


 

Terima Kasih – Thank You – Vielen Dank – Jazāk Allāhu Khayran!

WAKAF MAPAN Wapena 2.0

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 2:261)

Latar Belakang

  • Jumlah anggota resmi dan simpatisan WAPENA yang berjumlah lebih dari 100 orang
  • Kapasitas Masjid di Malfattigasse 18 sudah dirasakan kurang
  • Status WAPENA yang sudah secara resmi dan legal administratif menjadi Moscheegemeinde (Komunitas Masjid) di Austria per 20 Juni 2016
    • WAPENA sebagai anggota Islamische Glaubensgemeinschaft in Österreich (IGGÖ) / Organisasi Komunitas Islam di Austria sebagai payung resmi.
  • Perintisan Toko As-Salam WAPENA sebagai motor pergerakan roda ekonomi warga dan organisasi
  • Perintisan kegiatan Taman Pengajian Al Qur’an (TPA) dan pengajian umum untuk komunitas Remaja, para Ibu, dan Bapak-bapak.

Tujuan

  • Kepemilikan Masjid Indonesia/Asia Tenggara secara permanen
  • Target lokasi dengan luas minimum 200 m2 dengan alokasi ruang
    • 100 m2 ruang ibadah
    • 35 m2 toko/badan usaha WAPENA, gudang dan ruang kegiatan
    • 25 m2 ruang TPA
    • 15 m2 ruang kantor
    • 25 m2 ruang inap untuk Imam dan Marbot
  • Biaya total yang diperlukan pembelian Masjid tersebut sebesar EUR 500.000 – 600.000

Program: WAKAF MAPAN

  • Wakaf Kebaikan Masa Depan per M2 untuk Masjid Wapena 2.0 (WAKAF MAPAN)
  • Detail program
    • Wakaf (minimum) per m2 sebesar EUR 2.500
    • Wakaf (minimum) per setengah m2 sebesar EUR 1.500
    • Sertifikat Wakaf akan diberikan kepada para donatur dengan minimum kontribusi setengah m2.
    • Program WAKAF MAPAN ini dapat diatasnamakan keluarga dari donatur (e.g., Ayah, Ibu, Anak, dsb)
    • Wakaf dapat diserahkan secara tunai atau cicilan selama 6 atau 12 bulan
    • Wakaf ini merupakan program terpisah dari donasi bulanan WAPENA


Contact Person

Bpk. Said Taufik
saidtaufik [at] yahoo.com


Mari kita sukseskan program „WAKAF KEBAIKAN MASA DEPAN PER METER PERSEGI (WAKAF MAPAN)” untuk pendanaan Proyek Masjid As-Salam WAPENA 2.0! InsyaAllah niat baik dan amal kita diterima oleh Allah SWT dan menjadi ladang amal dan berkah yang berkelanjutan bagi para pewakaf.

…Dan apa saja harta yang baik yang kamunafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Baqarah 2:272)