Masjid Ketiga di Eropa, Idenya Muncul 10 Tahun Lalu

Warga muslim Indonesia di Austria tengah berbahagia. Mimpi memiliki masjid di negara berpenduduk 8,4 juta jiwa itu kini menjadi kenyataan. Bagaimana kisah terwujudnya masjid yang diprakarsai warga Indonesia tersebut? Berikut laporan kontributor INDOPOS Ahmad Reza Khomaini dari Wina, Austria.

ALHAMDULILLAH. Segenap pujian kepada sang Khalik terlantun dari warga muslim Indonesia yang berada di Austria. Berkat izin Allah SWT impian mulia itu terkabul. Sebuah apartemen sederhana di jalan Malfattigasse 18 A-1120 Wien telah diubah fungsinya menjadi tempat bernaung melantunkan doa-doa dan harapan.

Rumah ibadah bagi umat muslim Indonesia yang pada 21 Januari lalu itu diresmikan dan dinamakan masjid As-Salam Wapena. ’’Alhamdulillah, keinginan memiliki masjid akhirnya terwujud hari ini,’’ ucap Andi ’’Acha’’ Junirsah, ketua Warga Pengajian Wina (Wapena) saat memberikan sambutan di peresmian masjid, Sabtu (21/1) lalu.

Pada peresmian itu, sedikitnya 100 orang memadati ruangan masjid berukuran sekitar 85 meter persegi. Tak hanya warga muslim Indonesia dari Wina, WNI dari provinsi Steiermark, Lower dan Upper Austria, serta dari Nuerenberg dan Munich (Jerman) juga ikut merayakan berdirinya masjid Indonesia pertama di Austria.

Hadir juga dalam acara, Duta Besar RI KBRI/PT RI untuk Austria dan Slovenia, I Gusti Agung Wesaka Puja beserta istrinya, Rusdjiana Puja. Dalam sambutannya, Wesaka Puja memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga muslim Indonesia di Austria.

’’Saya bangga dan salut. Dan hari ini (21 Januari, Red), merupakan hari spesial bagi kita semua. Dari tanggal lahirnya pun spesial (21/1/12), karena dibaca dari kanan dan kiri tetap sama, tanggal 21, bulan 1, dan tahun 12. Semoga keberadaan masjid ini bisa semakin memperkuat ibadah dari warga muslim Indonesia di Austria,’’ ucap Wesaka Puja.

’’KBRI juga tetap membuka pintu lebar-lebar jika warga memerlukan bantuan dalam setiap kegiatannya,’’ sambung pejabat kelahiran Bali ini yang membukukan tanda tangannya di papan nama masjid sebagai simbol diresmikannya masjid As-Salam Wapena. Selain dihadiri Dubes RI untuk Wina beserta pejabat-pejabat KBRI/PT RI Wina, pihak panitia penyelenggara juga mengundang pimpinan masjid Al-Falah Berlin, Jerman, Dr. Makky Sandra Jaya.

Ketua masjid Indonesia di ibukota Jerman itu diundang untuk memberikan taushiah kepada warga. Selain memaparkan fungsi-fungsi utama dari sebuah masjid, Dr. Makky memberikan pencerahan tentang satu fungsi penting dari sebuah rumah ibadah yang berdiri di luar negeri, khususnya di benua Eropa. ’’Peran jamaah masjid juga sebagai duta-duta Islam di Austria.

Mereka harus mengenalkan budaya Islam serta Islam sebagai rahmatan lil alamin,’’ tutur Dr. Makky menutup sesi acara peresemian masjid. Kehadiran masjid As-Salam di Austria menambah jumlah masjid Indonesia di Eropa. Menurut Andi Junirsah, masjid As-Salam merupakan masjid Indonesia ketiga yang berdiri di daratan benua Biru. Sebelumnya, kata pria yang akrab disapa Acha ini, di Belanda telah lebih dahulu berdiri masjid Indonesia. ’’Kalau yang di Den Haag (Belanda) namanya masjid Al-Hikmah.

Itu masjid Indonesia pertama di Eropa,’’ terang Acha kepada INDOPOS. Seperti dikutip laman bataviase.co.id, masjid Al-Hikmah di Den Haag berdiri sejak 1996. Masjid tersebut awalnya merupakan gereja.

Setelah di ibukota Belanda, warga muslim Indonesia di Berlin, Jerman, pada 2007 lalu mendirikan masjid Al-Falah. Ide untuk memiliki masjid Indonesia di Austria sebenarnya sudah muncul sejak lama. Menurut Penasehat Wapena Dewanto Saptoadi, keinginan untuk mewujudkannya tak semudah membalikkan kedua telapak tangan.

’’Kalau idenya sudah sejak 10 tahun lalu kalau yang saya ketahui. Ada keinginan untuk membangun masjid dari awal, seperti membeli lahan dan membangun bangunan masjid seperti di Indonesia. Tapi itu tidak realistis, dan sangat sulit untuk diwujudkan,’’ terang Dewanto.

Lebih dalam dijelaskan pria yang bekerja sebagai Staf Profesional 3 Safeguard di IAEA itu, perizinan untuk membangun masjid dengan kubah dan menara sangat sulit untuk diperoleh.

’’Hanya satu yakni Vienna Islamic Center yang benar-benar berbentuk kubah dengan menara azannya. Itu yang diberi izin oleh pemerintah Austria. Selebihnya hanya dalam bentuk masjid apartemen. Seperti masjid kita ini,’’ kata Dewanto. Pejabat dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir ini mengaku bersyukur bisa menjadi bagian berdirinya masjid Indonesia di Austria.

’’Jangan lihat masjid dari bangunannya. Apakah itu harus ada kubah, atau rata seperti bangunan di apartemen. Tapi justru fungsi dan tujuan keberadaan masjid itu yang harus kita jalani,’’ tandas Dewanto. (bersambung)

Oleh: Reza Khomaini
Sumber: Indopos

One Comment

    Abu Fudhoil Hamzah

    Sgt salut dgn perjuangan kwn2 semuslim di wina. Tetap maju dan smg masjid2 d benua biru semakin banyak. Jd ingat bahwa kekhalifahan islam pernah melebarkan sayapnya smpai seantero Eropa.
    Salam semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.