Salat Jumat Perdana Mualafkan Seorang Warga Austria

Setelah diresmikan 21 Januari lalu, rumah ibadah bagi warga muslim Indonesia di Wina, Austria, itu mulai menjalankan kegiatan-kegiatan Islaminya. Apa saja kegiatan rutin di masjid As-Salam, berikut laporan kontributor INDOPOS Ahmad Reza Khomaini dari masjid yang terletak di Malfattigasse 18 A-1120 Wien itu.

JUMAT (27/1) lalu, masjid As-Salam menggelar Salat Jumat yang perdana. Puluhan warga muslim Indonesia mulai dari pejabat KBRI/PTRI Wina, pekerja di organisasi PBB, hingga pelajar dan mahasiswa menjalani salat fardhu ain di masjid Indonesia pertama di ibu kota Austria tersebut. Selain warga Indonesia, beberapa jamaah dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Bosnia, dan Mesir juga mengikuti ibadah wajib tersebut. Berbeda dengan kebanyakan masjid yang tersebar di Austria, khutbah salat Jumat di masjid As-Salam disampaikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

”Kalau di masjid Vienna Islamic Center khutbahnya dalam bahasa Jerman dan Arab. Karena jamaahnya dominan warga Indonesia, jadi khutbahnya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Jamaah dari negara lain tetap bisa mengerti isi khutbahnya karena disampaikan dalam bahasa Inggris,” ungkap ketua Warga Pengajian Wina (Wapena), Andi Ahmad Junirsah yang pada Salat Jumat itu bertindak sebagai khatib. Mengingat usia masjid As-Salam yang baru seumur jagung, dia menjelaskan, kegiatan Salat Jumat dalam bahasa Indonesia hanya akan dilaksanakan satu kali dalam setiap bulannya. Untuk kegiatan salat lima waktu, pihak Wapena masih mengandalkan pengelola masjid sebelumnya.

”Teman-teman dari Pakistan yang sebelumnya menjadi pengelola masjid ini tetap kami ajak. Mereka memiliki waktu dan sudah berpengalaman dalam mengurus masjid. Untuk sementara ini, kami rasa masih sulit untuk bisa Jumatan (memakai bahasa Indonesia) setiap pekannya,” ungkap pria yang akrab disapa Acha kepada INDOPOS. Menurut Acha, salah satu kendala utamanya adalah mayoritas warga muslim Indonesia yang berstatus pekerja. Hal yang sama juga terkadang dialami kalangan mahasiswa Indonesia.

”Waktunya bisa menyulitkan bagi warga yang bekerja untuk Jumatan. Paling mereka hanya bisa ke masjid setelah jam kerja,” terang Acha. Acha optimistis pengelolaan masjid As-Salam bisa dijalankan oleh pengurus Wapena secara penuh seiring waktu berjalan. Acha memberi contoh masjid Indonesia Al-Falah di Berlin, Jerman. Awalnya, sama seperti Wapena, kegiatan-kegiatan Islami dilakukan di kantor KBRI setempat. ’’Kini warga muslim Indonesia di Berlin sudah punya masjid sendiri. Luas masjidnya pas awal kecil, tapi setelah jamaahnya banyak, mereka memperluas ruangannya. Insya Allah kami bisa seperti warga muslim di Berlin,’’ kata pria kelahiran 7 Juni 1974 ini.

Kendati begitu, bukan berarti masjid As-Salam sepi akan kegiatan-kegiatan Islami. Acha menjelaskan, pengurus Wapena telah merancang sejumlah aktivitas yang menghiasi masjid dengan luas ruangan 106 meter persegi tersebut. Di antaranya, membuka Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bagi warga muslim. Kegiatan ini akan dilaksanakan setiap Sabtu. ”Ada tiga kelas TPA. Kelas I untuk usia 4-6 tahun, kelas II usia 7-11 tahun, dan kelas III 12 tahun ke atas,” terang pria yang telah bermukim di Austria sejak 1991 ini.

Pengurus Wapena juga bakal menggelar pengajian rutin setiap minggu. Kegiatan ini tidak hanya untuk warga muslim Indonesia, tapi juga terbuka bagi sahabat-sahabat dari Malaysia dan Singapura. ”Sebelum masjid ini berdiri, kami rutin melakukan pengajian bersama warga Malaysia dan Singapura di ruang serba guna KBRI. Kegiatan ini akan kami lanjutkan di masjid As-Salam,” tandas Acha. Selain di akhir pekan, ada juga kegiatan Islami di hari-hari kerja. Salah satunya pengajian bersama yang dilakukan oleh ibu-ibu muslim Indonesia.

Ada juga kajian Islami after work yang digelar kalangan mahasiswa. Ditegaskan Acha, pihak Wapena tidak hanya membuka pintu bagi warga muslim Indonesia untuk menggunakan fasilitas masjid sebagai tempat aktivitas Islami, tapi juga kepada warga muslim asal negara-negara tetangga. ”Kami mempersilakan kepada sahabat-sahabat dari Malaysia, Singapura, dan yang lain untuk mengisi kegiatan di masjid As-Salam. Kabarnya pihak Malaysia juga akan melakukannya,” ucap Acha. Sementara itu, beberapa saat sebelum menunaikan Salat Jumat, masjid As-Salam kedatangan tamu istimewa.

Dia adalah Gottfried Klug. Warga Austria yang menikahi wanita Indonesia ini meminta kepada pengurus masjid As-Salam untuk memandunya masuk Islam. Hadir sebagai saksi dalam proses tersebut di antaranya, Penasehat Wapena Dewanto Saptoadi, dan Minister Counsellor Pensosbud KBRI/PTRI Wina S. Djati Ismojo. Acha selaku ketua Wapena memandu Gottfried membaca dua kalimat Syahadat.

Usai membaca pernyataan kepercayaan dalam keesaan Allah SWT dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya, para jamaah yang hadir memberikan ucapan selamat kepada Gottfried. Setelah resmi memeluk agama Islam, pria Austria kelahiran 3 Februari 1973 mengaku akan mengganti namanya menjadi Muhammad Adam. ”Saya ingin masuk Islam atas keyakinan saya sendiri. Dan saya juga ingin menikah tanpa ada perbedaan agama,” ucap Gottfried yang ditemani istrinya Helia Klug. (*)

Oleh: Reza Khomaini
Sumber: Indopos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.